Di banyak organisasi, laporan K3 terlihat impresif di atas kertas. Grafik hijau, target tercapai, angka frekuensi menurun. Tapi di ruang rapat eksekutif, pertanyaan COO biasanya sederhana dan tajam: “Apa dampaknya ke operasi dan biaya?”
Masalahnya bukan kurang data, melainkan salah memilih KPI. Terlalu banyak vanity metrics—angka yang terlihat bagus, namun lemah hubungannya dengan risiko aktual dan outcome bisnis. Artikel ini membahas bagaimana memilih KPI leading dan lagging yang benar-benar bermakna, serta bagaimana mengemasnya dalam dashboard yang relevan bagi COO.
Dari sudut pandang COO, keselamatan adalah bagian dari reliability operasi. Insiden berarti downtime, rework, investigasi, keterlambatan produksi, klaim asuransi, hingga reputasi yang terganggu.
Ketika laporan K3 hanya berisi:
…tanpa menjelaskan apa artinya bagi risiko serius dan stabilitas operasi, laporan tersebut gagal menjawab kebutuhan pengambil keputusan.
COO tidak menolak keselamatan. Mereka menolak angka yang tidak bisa ditindaklanjuti.
Secara konsep, perbedaan leading dan lagging sudah sering dibahas. Tantangannya adalah implementasi.
Lagging indicators mengukur hasil akhir:
Ini penting, tapi bersifat reaktif. COO melihatnya sebagai damage report.
Leading indicators seharusnya mengukur pengendalian risiko sebelum insiden terjadi. Namun di sinilah banyak organisasi terjebak vanity metrics.
Beberapa contoh yang sering ditemui:
Masalahnya bukan pada aktivitasnya, tapi pada kualitas dan keterkaitannya dengan risiko kritis. Angka tinggi tidak otomatis berarti risiko turun.
COO akan bertanya: “Observation-nya tentang apa? Audit-nya menemukan apa? Risiko apa yang benar-benar dikurangi?”
Berikut leading indicators yang lebih kuat secara kausal dan lebih relevan bagi pengambil keputusan.
1. Quality of Safety Observations
Bukan berapa banyak, tapi:
Observation berkualitas tinggi memberi sinyal apakah organisasi benar-benar “melihat” risiko serius.
2. Closure Rate Temuan Audit (On-Time & Effective)
Audit tanpa penutupan hanya menciptakan ilusi kontrol. KPI yang bermakna:
Ini langsung berkaitan dengan eksposur risiko residual.
3. Serious Consequence Event (SCE) Compliance
COO jauh lebih peduli pada pencegahan cedera fatal dan kejadian berpotensi katastrofik. KPI yang relevan:
SCE metrics menggeser fokus dari “cedera ringan” ke “kejadian yang bisa menghentikan operasi”.
Inilah bagian yang sering hilang di laporan K3.
Leading indicators harus dikaitkan dengan lagging outcomes seperti:
Contoh logika yang disukai COO:
Ketika hubungan ini jelas, diskusi keselamatan berubah dari “kepatuhan” menjadi “manajemen risiko operasional”.
Dashboard eksekutif tidak perlu ramai. Justru harus ringkas dan fokus.
Bagian 1: Risk Signal (Leading)
Bagian 2: Exposure Trend
Bagian 3: Outcome (Lagging)
Bagian 4: Executive Action
Dashboard seperti ini memposisikan K3 sebagai decision support, bukan sekadar fungsi pelaporan.
Keselamatan yang disukai COO bukan yang paling banyak angkanya, tapi yang paling jelas dampaknya. Ketika KPI leading benar-benar mencerminkan kualitas kontrol risiko, dan KPI lagging diterjemahkan ke downtime serta biaya, keselamatan berhenti menjadi beban administrasi.
Ia berubah menjadi alat untuk menjaga kelangsungan operasi.